Rico Waas Tegaskan Puskesmas Tuntungan Harus Rampung Tepat Waktu

Kamis, September 24, 2026


MEDAN (patimpus.com) - Walikota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menegaskan pembangunan Puskesmas Tuntungan di Jalan Bunga Melati, Kelurahan Kemenangan Tani, harus dikerjakan tepat waktu dan diikuti peningkatan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat.


Penegasan itu disampaikan Rico Waas saat meninjau langsung progres pembangunan Puskesmas Tuntungan, Kamis (24/9/2026). Dalam peninjauan tersebut, Rico ingin memastikan setiap tahapan pekerjaan berjalan sesuai target yang telah ditetapkan.


Saat tiba di lokasi, Rico Waas mendengarkan penjelasan Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang (Perkimcikataru) Kota Medan Jhon Ester Lase serta penanggung jawab pekerjaan terkait perkembangan pembangunan puskesmas tersebut. Turut hadir Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan Surya Syahputra.


Rico Waas meminta proses pembangunan tidak mengalami keterlambatan. Ia menegaskan, pekerjaan awal berupa pembangunan pondasi ditargetkan dapat diselesaikan dalam waktu tiga minggu.


“Harus tepat waktu. Pengerjaan awal pondasi dalam tiga minggu harus selesai,” tegas Rico Waas 


Menurut Rico Waas, pembangunan fasilitas kesehatan tidak boleh hanya berorientasi pada berdirinya bangunan baru. Lebih dari itu, kehadiran gedung puskesmas harus memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kualitas pelayanan kesehatan yang diterima masyarakat.


“Pelayanan puskesmas harus lebih bagus. Jangan sudah dibangun, tetapi pelayanan tidak meningkat,” Jelas Rico Waas 


Rico Waas mengatakan, pembangunan dan revitalisasi fasilitas kesehatan merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kota Medan dalam memperkuat pelayanan publik, khususnya di bidang kesehatan. Infrastruktur yang memadai harus berjalan beriringan dengan pelayanan medis yang profesional, cepat, dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.


Puskesmas Tuntungan menjadi salah satu fasilitas kesehatan yang mendapat perhatian Pemko Medan. Pembangunan ini merupakan bagian dari program pembangunan kembali tiga puskesmas serta revitalisasi 28 fasilitas kesehatan di Kota Medan.


Melalui pembangunan tersebut, Pemko Medan tidak hanya ingin menghadirkan fasilitas kesehatan dengan kondisi fisik yang lebih baik, tetapi juga memastikan masyarakat memperoleh akses pelayanan kesehatan yang semakin layak dan berkualitas.


Karena itu, Rico meminta seluruh pihak yang terlibat dalam pembangunan Puskesmas Tuntungan bekerja sesuai target dan menjaga kualitas pekerjaan sejak tahap awal hingga selesai.


Bagi Rico Waas pembangunan gedung merupakan bagian dari proses. Target akhirnya adalah menghadirkan fasilitas kesehatan yang benar-benar memberikan manfaat bagi warga.


Sementara itu Kepala Dinas Perkimcikataru Kota Medan, Jhon Ester Lase, menjelaskan bahwa Puskesmas Medan Tuntungan dibangun setinggi dua lantai guna memaksimalkan keterbatasan lahan yang ada. Langkah peningkatan struktur bangunan ini dilakukan untuk memperluas kapasitas ruangan agar pelayanan medis kepada masyarakat dapat berjalan lebih optimal.


"Rencana kita bangun dua lantai karena lahannya terbatas, jadi kita tingkatkan agar kapasitas ruangan bertambah. Kita targetkan minggu ketiga Desember sudah selesai. Bagaimanapun kondisinya, walau cuaca hujan nanti, kita tetap totalitas agar akhir tahun bisa kita selesaikan demi pelayanan masyarakat," ujar Jhon Ester Lase saat meninjau progres pembangunan.


Menurut Jhon  Lase, gedung baru Puskesmas Medan Tuntungan ini nantinya akan dilengkapi dengan sekitar 30 ruangan multifungsi. Fasilitas pelayanan yang disiapkan meliputi Ruang Rawat Inap, Unit Gawat Darurat (UGD), Poliklinik, Laboratorium, hingga Ruang Farmasi.


Jhon Ester Lase memaparkan, Puskesmas Medan Tuntungan merupakan satu dari tiga puskesmas di Kota Medan yang dibangun total dari nol, selain Puskesmas Rengas Pulau (Marelan) dan Puskesmas Glugur Darat (Medan Timur). Ia pun tidak menampik bahwa pengerjaan di Puskesmas Medan Tuntungan sempat mengalami kendala teknis sehingga sedikit terlambat dibandingkan proyek puskesmas lainnya.


"Puskesmas Tuntungan ini memang prosesnya agak lambat dibanding Rengas Pulau dan Glugur Darat karena kemarin sempat ada proses tender ulang. Namun saat ini pengerjaan terus dikejar. Kami optimis dan berkomitmen proyek ini wajib selesai tepat waktu di akhir tahun demi menjamin kenyamanan dan akses pelayanan kesehatan warga," pungkasnya. (rel/don)

Tidak Ada Maling Tipe "Survival Sesuap Nasi": Sindikat Pencuri Sawit Ancam Petani, Pekerja, dan Iklim Usaha Perkebunan

Kamis, September 24, 2026

Foto Ist : Pekerja sedang memuat TBS ke atas truk

SUMATERAUTARA (patimpus.com) - Maraknya aksi pencurian Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di berbagai daerah perkebunan kini memicu keresahan mendalam.


Di tengah narasi yang kerap dibingkai sebagai pencurian "demi sesuap nasi" untuk bertahan hidup, fakta di lapangan justru membeberkan realitas berbeda: aksi kejahatan ini digerakkan oleh sindikat terorganisir dengan motif ekonomi ilegal yang merugikan banyak pihak.   


Berdasarkan potret penindakan di berbagai wilayah operasional, para pelaku umumnya masih berusia muda dan sehat, bergerak bergerombol, menggunakan penutup wajah, hingga bertindak agresif serta bersenjata saat berhadapan dengan petugas pengamanan maupun pekerja di kebun.   


Ancaman Nyata Bagi Nyawa Pekerja dan Jeritan Petani


Bagi para pekerja di garis depan, pencurian komoditas industri ini bukan sekadar hilangnya buah sawit, melainkan ancaman terhadap keselamatan fisik. Ketua Serikat Pekerja Perkebunan (SP BUN), Virman Yuswardi Manik yang akrab disapa Jayus, mengungkapkan realitas pahit yang kerap dihadapi para penjaga kebun dan pemanen di lapangan.


"Kami ini bekerja secara halal untuk menafkahi keluarga. Namun di lapangan, satpam dan pekerja seringkali harus bertaruh nyawa menghadapi sindikat pencuri yang beringas dan main fisik. Yang dihadapi bukanlah orang kelaparan, melainkan oknum-oknum berbadan sehat yang bertindak agresif. Penegakan hukum yang tegas mutlak diperlukan agar ada efek jera," ujar Jayus, Kamis (24/09/2026).   


Jayus juga menyoroti kalkulasi ekonomi dari hasil pencurian yang kerap disembunyikan di balik dalih belas kasihan. Dalam sejumlah kasus penindakan, barang bukti yang diamankan rata-rata mencapai 10 tandan atau sekitar 160 kilogram TBS dengan nilai ekonomi mencapai ratusan ribu rupiah dalam sekali angkut. Jika aksi serupa dilakukan berulang, tentu persoalannya bukan lagi sekadar bertahan hidup.   


Sebagai ilustrasi, nilai sekitar Rp700 ribu apabila terjadi sekali setiap hari setara dengan perolehan sekitar Rp4,9 juta dalam seminggu atau menembus angka Rp21 juta dalam 30 hari. Besarnya insentif ekonomi inilah yang membuktikan bahwa aktivitas tersebut merupakan kejahatan komoditas terorganisir.   


Ketakutan yang sama turut mencengkeram nyali para petani kelapa sawit swadaya. Sularno, salah seorang perwakilan petani rakyat, merasa posisinya sangat terancam jika penegakan hukum terhadap para pelaku kejahatan komoditas ini melemah.


"Kami para petani ini merasa senasib dengan kebun perusahaan. Jujur saja kami was-was luar biasa. Logikanya begini, kalau kebun perusahaan yang besar, dipagar, dan dijaga ketat oleh petugas saja berani mereka jarah terang-terangan, apalagi kebun kami masyarakat kecil yang lahannya sempit dan terbuka? Habis kebun kami disikat mereka. Kami sangat bergantung pada ketegasan aparat penegak hukum. Sikat habis pelakunya, biar kami petani kecil bisa bertani dan tidur tenang," keluh Sularno.   


Photo Istimewa : Pekerja mengantar TBS ke pabrik kelapa sawit


Dalih "Sesuap Nasi" Jangan Sampai Mengecoh Penegakan Hukum


Menghadapi fenomena oknum pelaku yang sering berlindung di balik status sosial saat tertangkap, tokoh masyarakat setempat, H. Ahmad Ramli, meminta publik lebih kritis. Ia mendorong aparat agar tidak ragu menindak pelaku kejahatan yang memanipulasi simpati publik.


"Kadang kita lihat faktanya sering diputarbalikkan. Pelaku ini cari simpati, alasannya mencuri karena lapar atau demi sesuap nasi. Nanti ujung-ujungnya aparat kepolisian yang disalahkan, dibilang hukum cuma tajam ke orang kecil. Padahal kalau dilihat, orangnya sehat-sehat, masih kuat kerja keras yang halal. Apalagi yang dicuri itu sawit, barang yang harus ditimbang dan dijual lagi ke penadah buat dapat duit, bukan pisang yang bisa langsung dimakan," papar H. Ahmad Ramli.   


Ia menegaskan bahwa kelonggaran hukum dan dalih berdamai justru akan merusak tatanan keamanan daerah. "Alasan minta keadilan restoratif itu jangan sampai dipakai jadi tameng buat melindungi sindikat maling seperti ini. Penindakan tegas kepolisian justru bertujuan baik, yakni melindungi rakyat yang benar—seperti pekerja dan petani kecil—dari gangguan keamanan yang lebih besar. Kami masyarakat luas mendukung penuh langkah polisi menegakkan aturan," pungkasnya.   


Sorotan senada juga disampaikan oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI). Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menegaskan bahwa aksi penjarahan sawit di berbagai daerah kini menunjukkan pola terstruktur yang melibatkan kelompok dengan keberanian luar biasa dan harus segera ditindak.   


"Seperti salah satu penjarahan yang terjadi, itu luar biasa. Satu hari bisa puluhan ton yang keluar dari kebun, dan mereka terang-terangan menjarah. Ini menunjukkan keberanian kelompok terstruktur yang harus segera ditindak," urai Eddy.   


Komitmen Bersama: Lindungi Pekerja dan Putus Rantai Ilegal


Melihat masifnya jaringan kejahatan ini, berbagai elemen meminta agar penanganan hukum tidak hanya berhenti pada pelaku lapangan saja. Jaringan penampung dan pihak yang menikmati aliran dana ilegal tersebut harus diusut tuntas.


TBS baru bernilai setelah ditimbang, dihargai, dan dijual melalui rantai transaksi tertentu. Oleh karena itu, memutus mata rantai penampung dan menegakkan hukum secara tegas tanpa kompromi menjadi harga mati demi melindungi para petani, pemanen, dan pekerja yang bekerja secara jujur dari ancaman sindikat ilegal. (don)

‎Sofyan Tan Sebut Fotografi Sebagai Arsip Visual Dan Cermin Identitas Bangsa Serta Media Kritik Sosial

Kamis, September 24, 2026


‎MEDAN (patimpus.com) - Diikuti oleh fotografer dan jurnalis foto di Kota Medan, Kementerian Kebudayaan bersama Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan berkolaborasi dengan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Medan menggelar Semarak Budaya yang mengangkat tema 'Dalam Satu Bingkai Kebhinekaan, Ketika Fotografi Bercerita Tentang Indonesia' di Aula Gedung Anjungan Melayu, Jalan Setiabudi, Tanjung Rejo, Medan, Rabu (23/9/2026).

‎

‎Dalam kegiatan tersebut, Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, menyebut fotografi memiliki peran penting dalam merekam keberagaman budaya sekaligus menjadi arsip visual sebagai cermin identitas bangsa.

‎

‎Sofyan Tan mengatakan lagi, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sambung Sofyan Tan. Indonesia memiliki sekitar 1.340 suku bangsa dan hingga 729 bahasa daerah.

‎

‎Sofyan Tan menjelaskan lagi, Keberagaman itu tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, mulai pakaian adat, tradisi, seni hingga kuliner. Karena itu, seluruh kekayaan tersebut perlu didokumentasikan agar menjadi arsip yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

‎

‎"Fotografi adalah arsip visual kebudayaan yang bisa merekam seluruh aktivitas kehidupan tradisi. Ia bukan sekadar ingatan, melainkan wujud nyata yang dapat merekam adat istiadat, busana, hingga gerak tari daerah,” ungkap Sofyan Tan.

‎

‎Selain sebagai rekam jejak sejarah, sambungnya lagi. Fotografi menurutnya memiliki fungsi sebagai cermin pembentuk identitas, sarana pendidikan dan diplomasi budaya, serta media kritik sosial.

‎

‎Ia mencontohkan, sebuah foto dapat menyampaikan pesan mengenai nilai kebersamaan dan pendidikan moral tanpa harus menggunakan banyak kata. Fotografi juga dapat merekam berbagai persoalan sosial, termasuk bencana dan isu keadilan sosial.

‎

‎Dari sisi kulinernya, Sofyan Tan membandingkan kekayaan kuliner Indonesia dengan negara lain seperti Thailand yang mengandalkan satu hidangan khas seperti Tom Yum.

‎

‎Untuk itu, menurutnya kekayaan dari beragamnya budaya nusantara dari kuliner Indonesia yang memiliki ciri khas unik seperti nasi goreng dan ratusan jenis soto lainnya ini perlu direkam dalam wujud nyata sebagai arsip visual.

‎

‎"Fotografi adalah arsip visual kebudayaan yang bisa merekam seluruh aktivitas kehidupan tradisi. Ia bukan sekadar ingatan, melainkan wujud nyata yang dapat merekam adat istiadat, busana, hingga gerak tari daerah," ujar Legislator dari Dapil Sumut 1 itu.

‎

‎Sofyan Tan menambahkan lagi. Sebuah foto dapat menyampaikan pesan pendidikan moral dan nilai kebersamaan antar-suku tanpa perlu banyak kata dan bahkan melalui bidikan momen bencana atau keadilan sosial, fotografi mampu menjadi sarana kritik konstruktif.

‎

‎Sofyan Tan juga mengingatkan pelaku fotografi agar menghadapi tantangan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Ia pun menyebutkan sekitar 83 persen fotografer kini telah memanfaatkan AI dalam berkarya.

‎

‎Perkembangan AI tidak hanya berdampak pada dunia fotografi, tetapi juga berbagai profesi lain, termasuk dokter dan akademisi, terutama terkait persoalan etika dan plagiarisme.

‎

‎Berkaitan hal itu, Sofyan Tan meminta fotografer tetap mempertahankan keaslian dan sentuhan manusia dalam setiap karya.

‎

‎“Teknologi AI tidak memiliki perasaan, sedangkan manusia memilikinya. Saat seorang fotografer membidik objek, seluruh perasaannya mengalir ke sana. Walaupun bidikan foto hanya berlangsung satu detik, ia mampu meninggalkan kesan sepanjang zaman dan bahkan mempengaruhi kebijakan satu negara,” tegas Sofyan Tan.

‎

‎Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PFI Medan Risky Cahyadi, fotografer senior Dr Irsan Mulyadi M.I.Kom, Tenaga Ahli DPR RI Finche Kosmanto, Lisnawati Ginting dan Padapotan Tamba.

‎

‎Menanggapi hal tersebut, Fotografer Senior Dr Irsan Mulyadi M.I.Kom yang menjadi narasumber dalam acara tersebut memetakan kembali fungsi fotografi, baik jurnalistik maupun dokumenter dan sekaligus memetakan peran AI semata sebagai alat bantu (tool). 

‎

‎Irsan juga menyoroti adaptasi digital dengan membagi masyarakat ke dalam kelompok digital native dan digital immigrant. Ia menegaskan bahwa digital immigrant harus mau beradaptasi dengan kemajuan teknologi dan prosedur digitalisasi saat ini, seperti penggunaan transaksi QRIS dalam kehidupan sehari-hari.

‎

‎Irsan mengatakan bahwa percepatan ilmu dan teknologi saat ini telah melampaui komputerisasi biasa dan menyentuh ranah kuantum.

‎

‎"Percepatan ilmu hari ini sudah sampai pada capaian kuantum, tidak hanya komputerisasi. Di sinilah pentingnya memetakan AI sebagai alat bantu.

‎

‎Sementara itu, Ketua PFI Medan Risky Cahyadi mengapresiasi dukungan dari para narasumber dan berharap kegiatan ini dapat terus memotivasi para pewarta foto untuk tetap konsisten menjalankan peran sebagai saksi fakta yang jujur, beretika, serta berwawasan global demi melestarikan budaya bangsa. (Soni)

‎Gelar CSR Perdana, Elais by ARTOTEL Gotong Royong Di Masjid Al Ishlah

Rabu, September 23, 2026


‎MEDAN (patimpus.com) -  Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), Elais by ARTOTEL Medan, salah satu hotel butik dengan sentuhan desain kontemporer khas Artotel Group melakukan aksi bakti sosial dengan mengajak para staffnya bergotong-royong membersihkan Masjid Al Ishlah di Jalan Sei Belutu No.99 Medan pada Jumat, (11/9/2026). 

‎

‎Kegiatan tersebut sebagai bentuk komitmen Elais by ARTOTEL untuk berkontribusi menjaga kebersihan dan kenyamanan rumah ibadah sejak hadir di Kota Medan.

‎

‎Tidak hanya sebagai bentuk kepedulian terhadap kebersihan lingkungan, kegiatan tersebut juga menjadi langkah awal hotel dalam membangun hubungan yang lebih dekat dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat di sekitar.

‎

‎Hal tersebut dikatakan General Manager Elais by ARTOTEL Medan, Rio Himawan. Rio menambahkan selain memberikan manfaat bagi Masjid Al-Ishlah, aksi gotong royong itu menjadi momentum bagi tim untuk memperkuat rasa kebersamaan di luar aktivitas sehari-hari. 

‎

‎Keterlibatan langsung para staff juga mencerminkan nilai hospitality yang tidak berhenti pada pelayanan kepada tamu, tetapi turut juga diwujudkan melalui kepedulian terhadap tempat dan orang-orang di sekitar.

‎

‎“Kami percaya bahwa memberikan dampak positif tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. CSR perdana ini adalah langkah sederhana dari Elais by ARTOTEL untuk hadir dan berkontribusi bagi lingkungan sekitar. Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi awal dari berbagai kegiatan sosial lainnya yang dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Rio Himawan.

‎

‎Sebagai bagian dari Artotel Group, Elais by ARTOTEL Medan akan terus mengeksplorasi berbagai inisiatif yang memiliki nilai sosial dan lingkungan. Langkah tersebut diharapkan dapat membuka lebih banyak kesempatan untuk berkolaborasi serta memberikan dampak positif secara berkelanjutan.

‎

‎Melalui aksi bakti sosial sederhana di Masjid Al-Ishlah, Elais by ARTOTEL memulai perjalanan tersebut dengan satu keyakinan bahwa dampak yang berarti dapat dimulai dari satu langkah kecil.

‎‎

‎Sejak hadir di Kota Medan, Elais by ARTOTEL Medan yang berlokasi di Jalan Sei Serayu No.12 ini merupakan hotel butik dengan sentuhan desain kontemporer khas Artotel Group yang mengedepankan pengalaman menginap yang modern dan berbeda.

‎

‎Hotel Elais by ARTOTEL Medan menawarkan 75 kamar yang terdiri dari kategori Superior, Deluxe, Junior Suite serta Suite yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan dan kenyamanan berbagai tipe tamu.

‎

‎Tidak hanya itu, dari sisi kulinernya. Elais by ARTOTEL Medan memiliki Wolon All Day Dining, restaurant yang menawarkan beragam pilihan hidangan khas Indonesia dan memiliki konsep rumah kaca yang hangat dan modern.

‎

‎Wolon All Day Dining yang berlokasi diarea Lobby dan dibuka setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 23.00 wib, menjadi ruang yang ‎nyaman untuk bersantap, berkumpul maupun merayakan berbagai momen spesial bersama keluarga, teman, dan kolega.

‎

‎Untuk mendukung kebutuhan berbagai kegiatan MICE di Kota Medan, Elais by ARTOTEL Medan juga dilengkapi dengan dua ruang pertemuan yang dapat disatukan sesuai dengan kebutuhan acara dengan kapasitas hingga 80 orang. 

‎

‎Fasilitas ini dapat menjadi pilihan untuk berbagai kegiatan, mulai dari pertemuan. bisnis hingga acara sosial.

‎

‎Artotel Group adalah manajemen operator hotel Indonesia yang mengintegrasikan 4 unit bisnis, Hotel (Stay), Food & Beverages (Dine), Event Management (Play), dan Curated Merchandise (Shop). 

‎

‎Dengan mengusung konsep Gaya Hidup masa kini, Artotel Group menawarkan berbagai pilihan akomodasi dengan berbagai pilihan Brand, ARTOTEL, DAFAM, MAXONE, ROOMS INC. 

‎

‎Artotel Group memiliki inventori lebih dari 100 hotel dan 10.000 kamar tamu dengan berbagai kategori mulai dari hotel ekonomis, hotel butik, hingga hotel mewah yang tersebar di seluruh Indonesia.

‎

‎Selain itu, Artotel Group juga sebagai mitra strategis Louvre Group di Indonesia untuk mengelola dan mengembangkan brand waralaba diantaranya KYRIAD, GOLDEN TULIP, dan ROYAL TULIP.

‎

‎Dibidang Food & Beverage, Artotel Group menyediakan jasa pengelolaan Restoran dan Bar. Melalui Event Management, ARTOTEL Play dan Curated Merchandise dengan brand ARTOTEL Goods.

‎

‎Artotel Group memiliki visi memajukan industri kreatif Indonesia dengan mendukung para seniman muda untuk berkarya melalui kolaborasi yang diciptakan berupa kegiatan pameran, pertunjukan, workshop, dan produksi merchandise berkarakter seni yang dapat dipakai sehari hari dengan harga terjangkau.

‎

‎Untuk memberikan penghargaan kepada para tamu, Artotel Group memiliki program loyalti Artotel Wanderlust dengan memberikan keuntungan lebih buat para tamu yang mendaftar sebagai anggota Artotel Wanderlust, antara lain jaminan harga kamar terbaik, diskon khusus F&B, serta mendapatkan reward point.

‎

‎Artotel Wanderlust dioperasikan melalui aplikasi digital yang dapat diunduh melalui sistem aplikasi IOS dan ndroid dengan pendaftaran secara cuma-cuma dan mudah.

‎

‎Brand ARTOTEL : ARTOTEL, ARTOTEL Suites, ARTOTEL Casa, ARTOTEL Collections, dan ROOMS INC yang berlokasi di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Medan, Batam dan Bali.

‎

‎Brand DAFAM : GRAND DAFAM, DAFAM, DAFAM EXPRESS, DAFAM COLLECTIONS. yang berlokasi di Jakarta, Bandung, Solo, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Bali, Pekanbaru, dan Sulawesi Selatan.

‎

‎Brand MAXONE : MAXONE, ALL NITE & DAY, NITE & DAY, ZIA, berLokasi di Jakarta, Ambon, Bali, Bintan, Batam, Balikpapan, Bekasi, Boyolali, Dumai, Jayapura, Makassar, Palembang, Semarang, Surabaya, Tangerang, Tanjung Pinang, dan Yogyakarta.

‎

‎Brand Waralaba KYRIAD, Lokasi : Jakarta, Tangerang, Cepu, Lampung, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Brand Waralaba GOLDEN TULIP, Lokasi : Jakarta, Tangerang, Pantai Indah Kapuk, Bali, Malang, Makassar, Pontianak, Lampung, dan Balikpapan. Sedangkan Brand Waralaba ROYAL TULIP, Lokasi: Bogor, dan Bali 

‎

‎Adapun F&B Outlets : Double Chin, Lidah Lokal, Eat Space, Roca, Bart, Bistro de Braga, B10 CAFÉ, Fat Elephant, 11/12 Rooftop Bar, Slide Bar, Terra All Day Dining, Barley & Barrel, Meet n Eat, One Deck Gastropub, La Gazette, Posana All Day Dining, Yin & Yum, Salute Bar, Caldera at ARTOTEL Cabin Bromo, Daun Semanggi Bistro, The Platform Rooftop Bar, Sitro all Day Dining, De’Attic Rooftop Bar, Cloven All Day Dining, Wolon All ‎Day Dining. (Soni)

PKH Medan Makmur Resmi Disalurkan, Rico Waas Serahkan Bantuan Untuk 10 Ribu Warga Lansia dan Disabilitas

Rabu, September 23, 2026


MEDAN (patimpus.com) - Walikota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas secara resmi menyalurkan bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) Medan Makmur kepada masyarakat Kota Medan, khususnya penyandang disabilitas dan lanjut usia (lansia) yang belum pernah menerima bantuan pemerintah.


Penyaluran secara simbolis dilakukan di Hotel Madani Medan, Rabu (23/9/2026). PKH Medan Makmur merupakan program unggulan Rico Waas guna memastikan masyarakat yang selama ini belum tersentuh bantuan tetap mendapatkan perhatian dan dukungan.


Pada tahap pertama, PKH Medan Makmur menyasar 10.000 penerima manfaat. Setiap penerima mendapatkan bantuan sebesar Rp200.000 per bulan. Karena bantuan mulai dihitung sejak Juni hingga September 2026, penerima pada penyaluran perdana menerima sekaligus Rp800.000. 


Penyaluran ini bekerja sama dengan pihak perbankan, khususnya Bank Sumut, setelah seluruh proses verifikasi data diselesaikan.


"Hari ini kita serahkan langsung bantuan PKH Medan Makmur. Sebanyak 125 warga yang hadir secara simbolis dan langsung bisa membawa pulang dananya sebesar Rp800.000 untuk akumulasi empat bulan," ujar Rico Waas yang hadir didampingi segenap Pimpinan Perangkat Daerah diantaranya Aspem Muhammad Sofyan, Kadis Sosial Khoiruddin Rangkuti, Kadis Kominfo Arrahmaan Pane dan Camat se- Kota Medan.


Rico Waas mengatakan, program tersebut lahir dari keprihatinan terhadap masih banyaknya lansia dan penyandang disabilitas di Kota Medan yang hidup dalam kondisi sulit, bahkan tidak memiliki penghasilan dan perhatian keluarga.


"Kita melihat begitu banyak masyarakat yang masih belum tersentuh bantuan secara langsung dari pemerintah. Terutama para penyandang disabilitas dan juga para lansia," kata Rico.


Ia mengungkapkan, dari hasil temuan di lapangan, masih terdapat lansia yang hidup seorang diri, tidak memiliki penghasilan, bahkan tidak mendapatkan perhatian dari keluarga.


"Kita menemukan banyak sekali lansia. Kalau ditanya, 'sudah pernah dapat bantuan?', jawabannya belum. Mereka mengatakan, 'Saya sudah lansia, saya janda, saya tidak pernah dapat perhatian, saya tidak ada keluarga, saya tidak ada pekerjaan'," ungkap Rico Waas.


Kondisi tersebut, kata Rico, menjadi alasan Pemko Medan harus hadir lebih dekat kepada masyarakat yang membutuhkan. 


"Pemerintah harus hadir untuk masyarakat. Pemerintah harus hadir bagaikan keluarganya yang mengulurkan tangan. Bersama-sama kita berjuang di dalam kesusahan ini," tegas Rico Waas.


Rico Waas menjelaskan, pada tahap pertama Pemko Medan mengalokasikan anggaran sekitar Rp24 miliar untuk 10.000 penerima manfaat. Namun, melihat tingginya kebutuhan di lapangan, Pemko Medan berencana menggandakan kuota penerima menjadi 20.000 orang.


Penambahan kuota ini akan disusulkan pada P-APBD akhir tahun ini dan ditargetkan berlaku penuh pada awal tahun mendatang. Dengan perluasan kuota tersebut, total anggaran yang diproyeksikan untuk disiapkan Pemko Medan mencapai Rp48 miliar.


Rico menegaskan, anggaran tersebut bukanlah uang pribadi pemerintah, melainkan uang masyarakat yang dikembalikan dalam bentuk pelayanan dan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.


"Ini bukan uang saya, bukan dari saya. Saya hanya bisa memberikan kebijakan, ke mana kita arahkan. Tapi ini dari masyarakat sendiri. Apa yang diberikan masyarakat dari pajak yang diterima Pemerintah Kota Medan, kita kembalikan lagi langsung kepada masyarakat itu sendiri yang sangat membutuhkan," jelasnya.


Disisi lain, Rico meminta Dinas Sosial beserta seluruh pendamping dan pihak yang terlibat dalam pendataan penerima PKH Medan Makmur bekerja secara profesional dan memastikan bantuan benar-benar diterima masyarakat yang berhak.


Ia pun mengapresiasi jajaran Dinas Sosial, para pendamping PKH, petugas pendataan, serta Bank Sumut yang telah mendukung proses penyaluran bantuan tersebut.


Rico berharap PKH Medan Makmur dapat terus diperkuat sehingga cakupan masyarakat yang mendapatkan perhatian pemerintah semakin luas. 


"Mari kita perkuat lagi PKH Medan Makmur dan kita sukseskan PKH Medan Makmur ini untuk program Kota Medan yang lebih baik," pungkasnya.


Salah satu penerima manfaat, Zainal Arifin (65), seorang warga dari Kecamatan Medan Area, mengungkapkan rasa syukur dan gembiranya setelah terdaftar sebagai penerima manfaat PKH Medan Makmur program bantuan dari Pemko Medan. 


Diusianya yang telah memasuki 65 tahun, Zainal mengaku saat ini tidak memiliki pekerjaan tetap maupun penghasilan. Selama ini, ia belum pernah tersentuh program bantuan pemerintah apa pun hingga akhirnya terdata dalam program yang menyasar warga kurang mampu tersebut.


"Alhamdulillah sangat senang dan bersyukur. Saya belum pernah dapat bantuan lain selain ini. Program ini sangat membantu, apalagi di luar sana memang masih banyak warga yang belum tersentuh bantuan," ujar Zainal.


Ia mengapresiasi tinggi gagasan dan langkah Pemko Medan di bawah kepemimpinan Wali Kota Medan, Rico Waas, yang dinilainya sangat tepat sasaran serta berdampak langsung bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan belum pernah menerima bantuan dari program pemerintah lainnya.



Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Medan Khoiruddin Rangkuti mengatakan, PKH Medan Makmur merupakan program prioritas Pemko Medan yang telah dituangkan dalam RPJMD 2025–2029.


Program tersebut ditujukan bagi lansia dan penyandang disabilitas yang masuk desil 1 hingga 5 serta tidak menerima bantuan reguler dari pemerintah pusat seperti PKH maupun BPNT.


Dijelaskan Kadis Sosial, bantuan PKH Medan Makmur sebesar Rp200 ribu per bulan ditransfer langsung ke rekening penerima tanpa biaya administrasi. Dinsos bersama jajaran kecamatan dan kelurahan telah melakukan berbagai tahapan untuk mempercepat pembukaan rekening dan penyaluran bantuan. (rel/don)

Ekobis

Pendidikan

Hukum

Kesehatan

Komunitas

Jajanan

Peristiwa