Jangan Tumpuk di RS HAM Lagi, RSUD Pirngadi Medan Kini Mulai Layani Kateterisasi Jantung

Jumat, November 06, 2026

MEDAN (patimpus.com) - Warga Kota Medan kini memiliki tambahan akses pelayanan penanganan penyakit jantung melalui fasilitas kateterisasi jantung atau catheterization laboratory (Cath Lab) di RSUD Dr Pirngadi Medan. 


Layanan tersebut mulai dioperasikan melalui tindakan kateterisasi jantung perdana yang disaksikan langsung tim Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI yang dihadiri Direktur Pelayanan Klinis Kementerian Kesehatan, dr. Obrin Parulian, Jumat (6/11/2026).


Pengoperasian layanan ini menjadi bagian dari penguatan jejaring pengampuan pelayanan prioritas Kanker, Jantung, Stroke, Uronefrologi, serta Kesehatan Ibu dan Anak (KJSU-KIA).


Melalui program tersebut, pemerintah berupaya memperluas kemampuan rumah sakit daerah agar penanganan penyakit berisiko tinggi tidak hanya terpusat di rumah sakit rujukan utama.


Direktur Pelayanan Klinis Kementerian Kesehatan, dr Obrin Parulian, mengatakan pengembangan fasilitas kateterisasi jantung di RSUD Dr Pirngadi merupakan bagian dari upaya pemerintah mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.


Menurutnya, kasus-kasus prioritas yang dihadapi masyarakat, termasuk serangan jantung dan stroke, harus dapat ditangani hingga tingkat rumah sakit madya di kabupaten dan kota.


"Kementerian Kesehatan mengembangkan jejaring pengampuan pelayanan. Tujuannya agar kasus-kasus prioritas yang dihadapi masyarakat itu sampai ke level madya, di 514 kabupaten/kota, bisa diselesaikan. Termasuk serangan jantung dan serangan stroke, tidak boleh lagi semuanya menumpuk di Adam Malik," ujarnya.


Obrin menjelaskan, pemerintah telah memberikan dukungan berupa sarana, prasarana, peralatan medis, serta penguatan sumber daya manusia untuk mendukung operasional pelayanan tersebut.


Ia mencontohkan pengembangan pelayanan intervensi jantung di RSUD Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Rumah sakit tersebut telah memperoleh fasilitas dan peralatan kateterisasi jantung, disertai pengiriman dokter untuk mendukung pelaksanaan tindakan medis.


Bahkan, sehari sebelum kegiatan di RSUD Dr Pirngadi, dirinya bersama Direktur Utama RSUP Haji Adam Malik baru kembali dari Tarutung setelah menyaksikan pelaksanaan tindakan intervensi jantung perdana di rumah sakit tersebut.


Dalam tindakan itu, seorang pasien yang sedang berada di Tarutung mengalami serangan jantung. Pasien kemudian menjalani kateterisasi dan pemasangan dua stent atau ring jantung. Setelah tindakan berhasil dan aliran darah kembali lancar, pasien diperbolehkan pulang.


Obrin menilai keberadaan fasilitas tersebut sangat menentukan kecepatan penanganan pasien. Tanpa layanan kateterisasi di Tarutung, pasien harus dirujuk ke rumah sakit lain, seperti di Pematangsiantar atau Medan.


Kondisi tersebut berpotensi menambah waktu perjalanan, terlebih apabila rumah sakit tujuan sedang memiliki keterbatasan kapasitas maupun tenaga dokter.


"Kalau seandainya di Tarutung tidak tersedia, berarti paling dekat itu Siantar. Kita tahu berapa lama dari Tarutung sampai ke Siantar. Kalau kapasitasnya penuh, dokternya tidak ada, kemudian harus dikirim ke Medan, sampai di tempat mungkin sudah terlambat. Sebenarnya inilah tujuan pemerintah," katanya.


Ia bersyukur RSUD Dr Pirngadi Medan telah dapat melaksanakan tindakan kateterisasi jantung perdana. Menurutnya, keberhasilan tindakan pertama tersebut menunjukkan bahwa fasilitas yang telah disiapkan mulai dapat dimanfaatkan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.


Obrin juga menjelaskan bahwa tidak semua pasien yang menjalani kateterisasi harus mendapatkan pemasangan stent. Keputusan pemasangan ring bergantung pada hasil pemeriksaan dan kebutuhan medis pasien.


Karena itu, ia meminta masyarakat tidak khawatir apabila dalam tindakan kateterisasi tidak dilakukan pemasangan stent. Pelayanan tetap diberikan berdasarkan indikasi medis, bukan semata-mata karena harus memasang alat tertentu.


Meski fasilitas dan tenaga medis telah disiapkan, Obrin menegaskan masih terdapat tahapan yang harus diselesaikan agar pelayanan tersebut dapat dimanfaatkan secara luas oleh peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).


Salah satunya adalah kerja sama pelayanan dengan BPJS Kesehatan.


Ia menyebutkan Kemenkes telah memberikan dukungan peralatan melalui skema bantuan, sementara dokter yang diperlukan juga telah tersedia untuk mendampingi pelayanan. Rumah sakit pun telah mendapatkan izin operasional yang diperlukan.


Namun, agar masyarakat peserta BPJS Kesehatan dapat memperoleh pelayanan dengan jaminan pembiayaan, diperlukan kerja sama antara rumah sakit dan BPJS Kesehatan.


"Kami berharap seluruh layanan Cath Lab yang sudah terpasang ini segera didorong untuk kerja sama. Mohon kepala cabang BPJS Kesehatan agar informasi ini disampaikan ke pusat bahwa pelayanan sudah terselenggara, sehingga pelayanan ini bisa dijamin BPJS," ujarnya.


Obrin berharap dukungan Pemerintah Kota Medan dan BPJS Kesehatan dapat mempercepat proses tersebut. Dengan demikian, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan fasilitas pelayanan tanpa harus bergantung pada satu atau dua rumah sakit rujukan.


Ia menyebutkan, dengan jumlah penduduk Medan sekitar 2,5 juta jiwa, pengembangan fasilitas pelayanan jantung menjadi kebutuhan untuk memperluas akses masyarakat terhadap penanganan penyakit kardiovaskular.


Namun, ia mengingatkan bahwa penguatan fasilitas rumah sakit harus berjalan beriringan dengan upaya pencegahan penyakit.


Obrin menegaskan penanganan penyakit jantung dan stroke tidak cukup hanya dilakukan ketika pasien sudah mengalami serangan. Pemerintah daerah perlu memperkuat intervensi dari hulu melalui deteksi dini dan pengendalian faktor risiko.


Ia menyoroti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi sebagai sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung maupun stroke.


Menurutnya, masyarakat yang memiliki faktor risiko tersebut harus segera mendapatkan tindak lanjut medis, termasuk pengobatan dan pemantauan secara berkala.


Kementerian Kesehatan, kata dia, telah menyediakan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk membantu masyarakat mengetahui kondisi kesehatannya, termasuk tekanan darah, gula darah, dan kadar kolesterol.


Namun, pemeriksaan tidak boleh berhenti pada kegiatan pengambilan data. Hasil pemeriksaan harus ditindaklanjuti melalui pelayanan di puskesmas agar masyarakat yang terdeteksi memiliki faktor risiko memperoleh pengobatan.


"Saya berharap hasil-hasil CKG ini ditindaklanjuti. Kalau hipertensi diberikan obatnya, kalau diabetes juga ditangani. Jangan sampai orang yang sudah diketahui memiliki faktor risiko justru dibiarkan sampai akhirnya masuk rumah sakit," katanya.


Ia meminta Dinas Kesehatan Kota Medan memperkuat pelaksanaan CKG sekaligus memastikan masyarakat yang membutuhkan pengobatan dapat dilayani puskesmas.


Obrin juga menyinggung target cakupan CKG nasional sebesar 46 persen penduduk. Ia meminta capaian di Kota Medan diperiksa dan terus dikejar, mengingat kegiatan berlangsung hingga Desember 2026.


Menurutnya, data hasil pemeriksaan perlu menjadi dasar untuk mengetahui jumlah masyarakat yang mengalami hipertensi maupun diabetes, sekaligus memastikan tindak lanjut pengobatannya.


Dalam kesempatan itu, Obrin juga menyoroti pemerataan fasilitas pelayanan jantung di wilayah Sumatera Utara, terutama daerah yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap rumah sakit dengan kemampuan intervensi.


Ia menyebutkan pengembangan pelayanan tidak boleh hanya terpusat di Kota Medan dan Pematangsiantar. Masyarakat di wilayah Tapanuli hingga daerah perbatasan Sumatera Barat juga harus memperoleh akses pelayanan yang lebih dekat.


Obrin mengungkapkan, fasilitas kateterisasi jantung di Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, telah terpasang dan memperoleh izin dari BPJS Kesehatan. Kemenkes merencanakan pelaksanaan tindakan perdana di fasilitas tersebut pada 22 Desember 2026.


Ia berharap pengembangan jejaring tersebut dapat memperluas jangkauan pelayanan intervensi jantung dan stroke di Sumatera Utara.


"Jangan sampai orang di daerah Tapanuli sepanjang itu tidak mendapatkan pelayanan. Saya berharap mulai dari perbatasan Sumatera Barat sampai Tarutung sudah ada fasilitas yang memberikan layanan untuk serangan jantung maupun stroke," ujarnya.


Obrin menegaskan pemerintah harus hadir dalam seluruh lapisan pelayanan kesehatan dan sepanjang siklus kehidupan masyarakat. Karena itu, keberadaan rumah sakit dengan fasilitas canggih perlu disertai penguatan pelayanan kesehatan primer.


Sementara itu, Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap menyambut pengoperasian layanan kateterisasi jantung di RSUD Dr Pirngadi. Ia berharap fasilitas tersebut dapat memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, khususnya bagi pasien yang membutuhkan penanganan penyakit jantung.


Zakiyuddin mengatakan Kota Medan selama ini menjadi tujuan masyarakat dari berbagai daerah di Sumatera Utara untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Bahkan, menurutnya, masyarakat dari Aceh juga banyak yang datang berobat ke Medan.


Kondisi tersebut membuat kebutuhan pelayanan rumah sakit di Kota Medan semakin besar. Ia menilai peningkatan fasilitas kesehatan harus diikuti dengan pembenahan kualitas pelayanan dan ketersediaan tenaga medis.


Ia juga menyoroti masih banyaknya masyarakat yang harus mencari informasi mengenai ketersediaan kamar maupun dokter ketika membutuhkan pelayanan rumah sakit.


"Setiap hari masyarakat menelepon dan mengirim WhatsApp, selalu bertanya apakah ada kamar dan apakah ada dokter. Ini yang harus kita benahi. Masyarakat yang sakit harus mendapatkan pelayanan, tidak boleh dibedakan," ujarnya.


Zakiyuddin turut mengingatkan bahwa pembangunan rumah sakit dan penambahan fasilitas kesehatan harus diimbangi dengan upaya pencegahan penyakit.


Menurutnya, pertumbuhan rumah sakit di Medan harus berjalan seiring dengan peningkatan edukasi masyarakat mengenai pola hidup sehat. Ia menilai masyarakat perlu mendapatkan pemahaman tentang pentingnya menjaga kesehatan sebelum mengalami penyakit.


Ia juga meminta seluruh puskesmas di Kota Medan lebih aktif memberikan edukasi kepada masyarakat, termasuk warga yang tinggal di wilayah pinggiran seperti Belawan.


Selain itu, Zakiyuddin menyoroti perlunya pembenahan bangunan dan ruangan di RSUD Dr Pirngadi. Menurutnya, sejumlah ruangan di rumah sakit tersebut masih belum dimanfaatkan secara optimal.


Ia berharap pembenahan dilakukan berdasarkan master plan yang jelas, sehingga pembangunan atau renovasi bangunan benar-benar menjawab kebutuhan pelayanan.


"Jangan sampai bangunannya sudah selesai, tetapi alat-alatnya belum tersedia. Ini sering terjadi. Kalau rumah sakit sudah siap, alat-alatnya juga harus langsung ditempatkan sehingga bisa dimanfaatkan masyarakat," katanya.


Zakiyuddin juga menekankan bahwa peningkatan kualitas rumah sakit pemerintah tidak cukup hanya melalui pembangunan fisik dan pengadaan peralatan medis. Kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor penting dalam memberikan pelayanan kepada pasien.


Ia menilai rumah sakit pemerintah harus terus meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan, profesionalisme, serta kualitas pelayanan agar masyarakat mendapatkan pengalaman berobat yang baik.


Zakiyuddin turut menyinggung perlunya optimalisasi alat kesehatan yang telah tersedia di fasilitas pelayanan kesehatan. Ia mencontohkan adanya peralatan pelayanan mata di RSUD Bachtiar Djafar yang belum dapat difungsikan secara optimal.


Ia berharap pemerintah dan pihak terkait mengevaluasi kondisi tersebut agar peralatan yang telah diadakan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.


Selain itu, ia meminta koordinasi dengan BPJS Kesehatan terus diperkuat sehingga fasilitas dan peralatan yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk melayani peserta JKN.


Plt Direktur RSUD Dr Pirngadi Medan, dr. Mardohar, menyampaikan bahwa 6 November 2026 menjadi momentum penting bagi rumah sakit tersebut karena untuk pertama kalinya melaksanakan tindakan percutaneous coronary intervention (PCI) atau intervensi koroner perkutan.


Ia menjelaskan pelaksanaan tindakan perdana tersebut melalui sejumlah tahapan, mulai dari persiapan, pemeriksaan pasien, persiapan tindakan, pelaksanaan prosedur, hingga evaluasi awal setelah tindakan.


Menurutnya, pelayanan intervensi jantung membutuhkan kesiapan tenaga medis dan kerja sama multidisiplin, mulai dari dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dokter anestesi apabila diperlukan, perawat, tenaga radiologi, farmasi, laboratorium, hingga unsur pendukung lainnya.


Karena itu, keberhasilan tindakan perdana bukan hanya hasil kerja seorang dokter, melainkan kerja bersama seluruh unsur rumah sakit.


Mardohar mengakui bahwa untuk mencapai pelayanan yang mandiri dan berkelanjutan, RSUD Dr Pirngadi masih membutuhkan proses pembelajaran, peningkatan kompetensi, pendampingan klinis, evaluasi, serta pembenahan standar pelayanan secara konsisten.


Ia menyampaikan apresiasi kepada Direktur Pelayanan Klinis Kemenkes beserta tim pengampuan KJSU-KIA dan tim RSUP Haji Adam Malik yang telah membantu proses pengembangan pelayanan kateterisasi jantung di RSUD Dr Pirngadi.


"Kami berharap proses transfer pengetahuan dan pengalaman ini dapat terus berlangsung sehingga kompetensi SDM semakin meningkat dan pelayanan PCI dapat dikembangkan secara bertahap menuju pelayanan yang semakin tinggi," ujarnya.


Mardohar menegaskan, kegiatan monitoring dan evaluasi dari Kemenkes menjadi kesempatan strategis bagi rumah sakit untuk mengidentifikasi hal-hal yang masih perlu diperbaiki.


Menurutnya, pengembangan rumah sakit tidak cukup hanya melalui pembangunan fasilitas fisik, tetapi harus disertai peningkatan kompetensi tenaga kesehatan dan mutu pelayanan.


Ia berharap penguatan layanan kardiovaskular di RSUD Dr Pirngadi dapat berjalan terarah, terukur, dan berkelanjutan dengan dukungan Pemerintah Kota Medan, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Kementerian Kesehatan, BPJS Kesehatan, serta seluruh mitra pelayanan kesehatan. (don)

Walikota Medan Izinkan Stadion Teladan Jadi Homebase PSMS Medan

Rabu, November 04, 2026


MEDAN (patimpus.com) - Walikota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, secara resmi memberikan izin klub sepak bola PSMS Medan untuk menjadikan Stadion Teladan sebagai kandang (homebase) mereka kembali.


Kepastian ini didapat saat Wali Kota Medan Rico Waas menerima audiensi jajaran manajemen PSMS Medan di Balai Kota, Rabu (4/11/2026).


Dalam pertemuan tersebut, Wali Kota Medan Rico Waas menyampaikan rasa bahagianya dapat bertemu dan berdiskusi secara langsung terkait masa depan PSMS Medan serta pengembangan Stadion Teladan.


"Senang sekali bisa bertemu secara langsung membicarakan masa depan PSMS dan Stadion Teladan. Bagi saya, PSMS adalah kebanggaan kita bersama, jadi tidak ada masalah PSMS menjadikan Stadion Teladan sebagai homebase," ujar Rico Waas.


Rico Waas menegaskan bahwa Pemko Medan membuka pintu selebar-lebarnya untuk PSMS. Bahkan, ia memberi opsi agar PSMS memiliki dua markas sekaligus untuk mendukung perjuangan tim.


"Kalau bisa PSMS memiliki dua homebase, yakni Stadion Teladan dan Stadion Utama Sumut," tambahnya.


Stadion Teladan yang baru selesai dibenahi kini tampil jauh lebih modern. Rico Waas memaparkan bahwa seluruh fasilitas di stadion telah berstandar internasional dengan kapasitas mampu menampung hingga 20.000 penonton. Terkait infrastruktur penunjang seperti parkir, Pemko Medan juga telah menyiapkan berbagai kantong parkir di sekitar lokasi.


"Teladan dibangun untuk menjadi tempat kebanggaan masyarakat Medan, khususnya PSMS. Sekarang kita semua harus fokus memajukan tim," tegas Rico, yang juga mengapresiasi performa permainan PSMS Medan yang dinilainya terus meningkat pesat.


Sementara itu, Presiden PSMS Medan, Fendi Jonathan, menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh dari Pemerintah Kota Medan. Menurut Fendi, silaturahmi ini dilakukan demi mengembalikan marwah PSMS Medan ke rumah aslinya.


"Tujuan kami hadir di sini adalah untuk bersilaturahmi. Bagi kami, tempat PSMS sebenarnya adalah di Teladan, itu adalah marwah kami. Harapan kami ke depannya PSMS Medan bisa kembali berlaga di Stadion Teladan," tutur Fendi. (rel/don)

Pascabencana Aceh dan Sumut, CSL Dorong Kemitraan dan Investasi untuk Ketahanan Petani dan Rantai Pasok Sawit

Selasa, November 03, 2026


JAKARTA (patimpus.com) - Hampir setahun setelah bencana hidrometeorologi melanda Aceh dan Sumatra Utara (Sumut), Coalition for Sustainable Livelihoods (CSL) mendorong kemitraan lintas sektor dan investasi untuk memperkuat ketahanan petani serta rantai pasok kelapa sawit terhadap risiko iklim. 


Sebagai platform multipihak, CSL memfasilitasi Executive Dialogue 2026 bertajuk “Scaling Partnership and Investment for Resilient Palm Oil Landscapes and Sustainable Supply Chains in Aceh and North Sumatra” pada Senin, 2 November 2026, di Jakarta. 


Dorongan tersebut berangkat dari dampak banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem yang merusak infrastruktur serta memperlihatkan kerentanan petani dan rantai pasok sawit. 


Luas lahan perkebunan sawit di Sumut mencapai 1,3 juta hektar dan di Aceh sekitar 487,5 ribu hektar, yang mayoritas dikelola oleh petani swadaya. 


Dengan peran penting kedua wilayah dalam produksi sawit nasional, ketahanan iklim menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga ekonomi perdesaan dan investasi jangka panjang. Penguatan petani juga menjadi bagian dari prioritas pemerintah. 


Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian di Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Widiastuti SE MSi QIA, menitikberatkan pada pentingnya sinergi kebijakan, ketahanan infrastruktur pertanian, dan kapasitas petani menghadapi risiko bencana. 


“Petani harus menjadi pelaku utama transformasi sawit berkelanjutan. Di Aceh dan Sumut, sawit menopang ekonomi perdesaan. Karena itu, praktik budidaya yang baik dan ramah lingkungan menjadi kebutuhan utama,” ujar Widiastuti. 


Untuk menghubungkan prioritas tersebut dengan dukungan lintas sektor, CSL menempatkan  dialog sebagai ruang untuk menjembatani kebutuhan daerah dan peluang investasi ekonomi hijau. 


Edward Manihuruk, CSL Lead, menegaskan bahwa ketahanan lanskap bukan hanya agenda lingkungan, tetapi juga fondasi keberlanjutan bisnis. 


“Temuan lapangan perlu diterjemahkan menjadi investasi nyata yang melindungi petani dan menjaga rantai pasok global. Melalui dialog ini, CSL menjembatani pemerintah daerah, industri, lembaga pendanaan, dan masyarakat sipil untuk mewujudkannya,” ujar Edward. 


Kebutuhan menjembatani kondisi lapangan dan investasi tercermin dalam asesmen Landscape Maturity Index (MLI) 2026 yang dilakukan CSL di 10 kabupaten target. Sebagian daerah masih berada pada tahap berkembang (emerging stage), yang menunjukkan kemajuan pesat dalam tata kelola lingkungan dan kolaborasi publik-swasta. 


Namun, kemajuan tersebut masih dihadapkan pada tantangan pemulihan pascabencana dan risiko perubahan iklim yang memengaruhi mata pencaharian masyarakat. 


Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu SH MH, menekankan kebutuhan dukungan lintas sektor.


“Setahun setelah banjir, kami masih menghadapi curah hujan tinggi dan banjir susulan. Penyelamatan masyarakat terdampak tetap menjadi prioritas. Tapanuli Tengah memiliki 159 desa dan lahan sawit milik masyarakat seluas 16.836 hektare. Kami tidak menentang investasi, tetapi sawit harus memberi manfaat dan mendorong pertumbuhan bagi masyarakat sekitar. Untuk itu, kami membutuhkan kemitraan erat dengan sektor swasta, kementerian, dan lembaga pendukung lainnya,” tutur Masinton. 


Kebutuhan daerah tersebut menegaskan pentingnya landasan ilmiah dalam menentukan prioritas pemulihan dan investasi. 


Dr Beria Leimona SP MSi, Theme Leader Climate Change, Energy, and Low Carbon Development CIFOR-ICRAF, menjelaskan peran riset dan analisis lanskap dalam mitigasi risiko bencana. 


“Penanganan risiko bencana di tingkat lanskap membutuhkan koordinasi antarkabupaten. Kerusakan lahan, termasuk menurunnya kesehatan DAS, perlu menjadi perhatian dalam pengambilan keputusan. 




Informasi ilmiah membantu pemerintah menyelaraskan kepentingan ekologi dan ekonomi, dengan dukungan partisipasi hingga tingkat global,” imbuh Beria. 


Agar perencanaan berbasis ilmiah dapat diwujudkan di lapangan, dukungan pembiayaan perlu selaras dengan prioritas daerah. 


Sacha Amaruzaman PhD, Senior Programme Manager Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH), menyoroti pentingnya mekanisme pengurangan risiko (de-risking). 


“Investasi di tingkat tapak harus tepat sasaran, tidak terfragmentasi, dan selaras dengan prioritas pemerintah daerah. Pengalaman di Aceh Tamiang melalui Aceh Sustainable Working Group menunjukkan pentingnya kolaborasi pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat dengan perusahaan global untuk mendukung investasi bebas deforestasi, legalitas lahan petani, serta rantai pasok yang berkelanjutan dan inklusif bagi masyarakat lokal,” sebut Sacha. 


Selain keselarasan pembiayaan, kesiapan petani menjadi bagian penting dalam membuka peluang investasi. 


Jerry Imansyah SSi MSc, Sundaland Program Director Konservasi Indonesia menyoroti tantangan produktivitas dan pendampingan di tingkat lanskap. 


“Di lapangan, kami masih menghadapi produktivitas yang terbatas, kecenderungan perluasan lahan, dan penerapan regulasi yang belum optimal. Konservasi Indonesia mendampingi petani menerapkan agroforestri dan restorasi agar siap mengakses peluang investasi,” ujar Jerry. 


Melalui Executive Dialogue 2026, CSL berkomitmen menjembatani kebutuhan daerah, dukungan ilmiah, pembiayaan, dan pendampingan petani untuk mendorong langkah konkret serta kesepakatan model kemitraan baru. Upaya ini diarahkan untuk mendukung ekosistem komoditas yang tangguh dan berkelanjutan. 


Tentang Coalition for Sustainable Livelihoods (CSL) Coalition for Sustainable Livelihoods (CSL) adalah inisiatif multipihak yang menghubungkan pemerintah, pelaku usaha, organisasi kemasyarakatan, serta lembaga pendanaan untuk mempercepat pembangunan lanskap berkelanjutan, meningkatkan kesejahteraan petani kecil, serta menjaga kelestarian lingkungan di Indonesia, khususnya di wilayah Aceh dan Sumatera Utara. (rel/don)

Perumda Tirtanadi Raih Juara Pertama Ajang Lomba Konten Video Satya JKN Award 2026 Tingkat Nasional

Minggu, November 01, 2026


JAKARTA (patimpus.com) - Konten video yang ditampilkan tim Sekretaris Perusahaan Perumda Tirtanadi berhasil memukau dewan juri, sehingga sepakat dengan penilaian objektif BUMD milik Pemprov Sumut tersebut memperoleh juara pertama terbaik.


Raihan prestasi tersebut diperoleh dalam ajang lomba konten video Badan Usaha rangkaian kegiatan Satya JKN Awards 2026 Tingkat Nasional Kategori Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).


Penghargaan yang diberikan kepada Perumda Tirtanadi sebagai juara pertama tersebut, diserahkan langsung oleh Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito diterima Dewan Pengawas Perumda Tirtanadi Andi Atmoko H Panggabean sebagai bentuk apresiasi Perumda Tirtanadi dalam mendukung program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) berlangsung Jumat di Hotel Bidakara Jakarta (30/10/2026).


Anggota Dewan Pengawas Perumda Tirtanadi Andi Atmoko H Panggabean usai menerima penghargaan mengatakan sangat mengapresiasi kerja tim Sekretaris Perusahaan yang berhasil menampilkan konten video yang menurut penilaian tim juri merupakan yang terbaik dari sekian konten video yang tampil dari Badan Usaha lain.


"Alhamdulillah saya sangat bangga dan apresiasi kepada tim Sekretaris Perusahaan atas kerja kerasnya sehingga berhasil meraih juara pertama terbaik Nasional, ternyata tim Sekper mampu menyajikan konten beredukasi tinggi dan mudah dipahami masyarakat," ujar Andi Atmoko H Panggabean didampingi staf Sekper Syaiful  Hadi.


Sementara di tempat terpisah Direktur Utama Perumda Tirtanadi Ardian Surbakti ketika dimintai komentarnya melalui telepon selular mengatakan bahwa Perumda Tirtanadi sangat peduli akan kesehatan dan keselamatan pegawai dalam melaksanakan tugas baik di lapangan maupun di kantor agar pelaksanaan pekerjaan dapat dilaksanakan maksimal.


Dikatakan Ardian Surbakti jaminan kesehatan maupun keselamatan kerja bagi pegawai mutlak diberikan perusahaan untuk mendapatkan hasil pelayanan yang prima kepada pelanggan.


Selain itu diharapkan penghargaan juara pertama terbaik Nasional yang diraih tidak hanya sebatas pada konten video yang ditampilkan namun mampu mengaplikasikannya dalam pekerjaan sehari-hari.


"Keberhasilan juara pertama terbaik Nasional ini merupakan langkah awal yang baik dalam berbuat yang terbaik lagi dan saya berharap tidak hanya pada konten video namun dapat diaplikasikan dalam melayani pelanggan," ujar Ardian Surbakti Sabtu (31/10/2026). (don)

‎Dongkrak Kapasitas Pelaku UMKM, Perum LKBN ANTARA Adakan Pelatihan Lewat Inovasi Dan Konten Digital

Sabtu, Oktober 31, 2026


‎MEDAN (patimpus.com) - Perum LKBN ANTARA memperkuat kapasitas pelaku Usaha Mikro, Kecil Dan Menegah (UMKM) di Kota Medan guna meningkatkan daya saing dalam menjalankan aktivitasnya.

‎

‎Kepala Biro LKBN ANTARA Sumatera Utara Irwan Arfa mengatakan, peningkatan kapasitas menjadi penting bagi pelaku usaha karena mendongkrak kreativitas untuk mengembangkan produknya.

‎

‎"Pelatihan ini menjadi komitmen kami dalam meningkatkan kapasitas pelaku usaha untuk mendongkrak kreativitas menjalankan aktivitas-nya," ujar Irwan Arfa usai Pelatihan Usaha Mikro Kecil LKBN ANTARA di Medan, Jumat (30/10/2026).

‎

‎Irwan Arfa mengatakan, pelatihan yang merupakan bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan tersebut sejalan dengan visi-misi pemerintah yang mendongkrak UMKM berdaya saing.

‎

‎Menurut Irwan, perusahaan yang berperan sebagai kantor berita nasional tersebut mendongkrak kapasitas UMKM di Kota Medan lewat visual dan konten digital.

‎

‎"Kenapa digital menjadi penting bagi UMKM, karena digital sangat membantu di dunia modern seperti ini," ungkap Irwan.

‎

‎Ia mengatakan lagi, pelaku UMKM bakal dapat kemudahan bilamana dalam aktivitasnya memanfaatkan digitalisasi seperti menjangkau pasar yang lebih luas.

‎

‎"Jangan sampai kita mengabaikan pemasaran online karena akan berdampak di dunia teknologi saat ini," ujar Irwan.

‎

‎Oleh karena itu, Irwan menegaskan, perusahaan tersebut berkomitmen untuk meningkatkan daya saing pelaku UMKM dengan memperkuat kapasitas terhadap dunia digitalisasi.

‎

‎Irwan dalam kesempatan tersebut menyebut pelatihan yang mengangkat tema meningkatkan daya saing UMK lewat inovasi dan konten digital melatih 70 peserta binaan Pemerintah Kota Medan, Sumatera Utara.

‎

‎Dalam pelatihan tersebut, kata dia, pelaku UMKM dibekali tentang teknik dasar penyajian foto produk yang dibimbing oleh Pewarta Foto Antara Sumut Yudi Manar dan tentang Optimasi Digital Marketing yang langsung dipimpin Manejer TJSL LKBN ANTARA.

‎

‎"Ini merupakan komitmen bersama dalam meningkatkan daya saing pelaku UMKM termasuk di Kota Medan. kita siap berkerjasama dengan pemerintah daerah untuk mendongkrak kreativitas UMKM di Kota Medan," tegas Irwan lagi.

‎

‎Sementara itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Medan melalui Kepala Dinas Koperasi, UMK, Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan Hendra Ridho mengapresiasi kegiatan LKBN ANTARA yang mendukung peningkatan kapasitas pelaku UMKM di Kota Medan.

‎

‎Hendra Ridho menyebut pelatihan usaha mikro kecil yang diselenggarakan Perum LKBN ANTARA sebagai upaya untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha demi berdaya saing.

‎

‎"Kegiatan ini bentuk dukungan nyata dari berbagai pihak dalam meningkatkan kapasitas dan daya saing pelaku usaha khususnya UMKM di Medan," ujar Kepala Dinas Koperasi, UMK, Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan Hendra Ridho, usai membuka pelatihan UMK, di Medan.

‎

‎Menurut Hendra Ridho, pelatihan yang diselenggarakan Lembaga Kantor Berita Nasional  tersebut menjadi salah satu kebutuhan bagi pelaku UMKM meningkatkan kapasitas.

‎

‎Hendra juga mengatakan pelatihan yang mengangkat tema meningkatkan daya saing UMK lewat inovasi dan konten digital memberi pemahaman pelaku usaha di dunia teknologi saat ini.

‎

‎"Produk yang menarik harus ditampilkan secara baik. Sementara keunggulan produk perlu dikomunikasikan melalui konten yang kreatif dan inovatif. Jadi pelatihan ini sangat baik bagi para pelaku UMKM," jelas Hendra Ridho.

‎

‎Oleh karena itu, Hendra mengatakan peran dan kontribusi yang diberikan Perum LKBN ANTARA yang menggelar pelatihan tersebut menjadi penyemangat pemerintah daerah untuk meningkatkan kapasitas UMKM demi berdaya saing.

‎

‎Hendra mengatakan lagi, peningkatan daya saing menjadi salah satu prioritas pemerintah kota setempat guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

‎

‎"Saya berharap pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dalam kegiatan usaha sehari-hari. Pemkot Medan terus mendorong penguatan UMKM sebagai bagian dari upaya peningkatan perekonomian masyarakat," terang Hendra. (Soni)

Ekobis

Pendidikan

Hukum

Kesehatan

Komunitas

Jajanan

Peristiwa

Tradisi