"Kami Merasa Tidak Sendiri", Suara Hati Penerima Manfaat MBG 3B di Sumatera Utara
On Selasa, Januari 27, 2026
PATIMPUS.COM - Bagi sebagian keluarga di Sumatera Utara, hidup sering kali berjalan dengan keterbatasan. Keterbatasan pengetahuan, keterbatasan ekonomi, hingga keterbatasan akses terhadap layanan pendampingan keluarga.
Dalam situasi seperti itu, banyak orang tua hanya bisa bertahan dengan apa yang mereka tahu dan miliki. Namun kehadiran Program MBG 3B membawa harapan baru—harapan bahwa negara benar-benar hadir di tengah keluarga, bukan hanya lewat kebijakan, tetapi lewat sentuhan nyata di lapangan.
Itulah yang dirasakan Maysarah (25), seorang ibu di Kabupaten Serdang Bedagai. Dengan mata berkaca-kaca, ia menceritakan bagaimana pendampingan yang diterimanya perlahan mengubah cara pandangnya dalam merawat anak.
“Dulu saya pikir anak kurus itu biasa, karena kami juga hidup pas-pasan. Yang penting anak tidak sakit parah. Setelah didampingi, saya baru tahu kalau gizi dan pola asuh itu sangat penting. Sekarang saya merasa lebih percaya diri sebagai seorang ibu,” tuturnya lirih.
Bagi Maysarah, Program MBG 3B bukan sekadar sosialisasi atau kunjungan formal. Program ini menjadi ruang aman untuk bertanya, didengar, dan dipahami tanpa rasa dihakimi. Setiap kunjungan pendamping menjadi momen berharga untuk belajar hal-hal sederhana namun berdampak besar—mulai dari pengaturan pola makan anak, kebersihan lingkungan rumah, hingga cara berkomunikasi yang lebih hangat dengan keluarga.
“Saya jadi tahu cara masak makanan yang lebih bergizi dari bahan yang ada di rumah. Pendamping juga tidak pernah marah atau menyalahkan. Mereka ngajari pelan-pelan. Rasanya seperti punya keluarga sendiri yang peduli,” tambahnya.
Hal serupa dirasakan Armansyah (35), kepala keluarga dari Kabupaten Deli Serdang. Ia mengaku sebelumnya jarang terlibat dalam urusan kesehatan dan pengasuhan anak. Dalam pandangannya dulu, urusan anak adalah wilayah ibu, sementara dirinya fokus mencari nafkah.
“Biasanya urusan anak itu ibu-ibu saja. Saya pikir tugas saya cuma kerja. Tapi lewat MBG 3B, saya diajak ikut bertanggung jawab. Saya jadi paham peran saya sebagai ayah. Keluarga kami sekarang lebih kompak,” katanya.
Armansyah juga mengungkapkan bahwa pendampingan yang ia terima membuatnya lebih terbuka terhadap perubahan. Ia mulai ikut memperhatikan tumbuh kembang anak, menemani ke posyandu, dan berdiskusi dengan istrinya tentang perencanaan masa depan keluarga.
“Sekarang saya tahu kenapa 1.000 Hari Pertama Kehidupan itu penting. Dulu saya tidak pernah dengar soal itu. Kalau bukan karena MBG 3B, mungkin saya tetap menganggap semua ini sepele,” ujarnya.
Program MBG 3B hadir dengan pendekatan mendampingi, bukan menghakimi. Melalui dialog yang sederhana dan solusi yang disesuaikan dengan kondisi nyata keluarga, program ini membantu masyarakat memahami pentingnya perencanaan keluarga, pemenuhan gizi, serta penguatan ketahanan keluarga sebagai fondasi masa depan anak.
Para kader dan pendamping keluarga menjadi ujung tombak program ini. Mereka hadir secara rutin ke rumah-rumah warga, membangun kepercayaan, dan memastikan setiap keluarga merasa tidak sendirian dalam menghadapi persoalan hidup.
BKKBN Provinsi Sumatera Utara menegaskan bahwa testimoni para penerima manfaat adalah cermin keberhasilan program. Lebih dari sekadar angka dan laporan, MBG 3B adalah tentang perubahan kecil yang berarti besar bagi kehidupan keluarga.
“Ketika keluarga merasa diperhatikan dan didampingi, di situlah perubahan dimulai. MBG 3B adalah upaya kami memastikan setiap keluarga memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan sejahtera,” ujar Dr. Fatmawati, ST. M.Eng , selaku Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Utara.
Ia menambahkan bahwa keberlanjutan program menjadi kunci agar dampak yang dirasakan masyarakat tidak berhenti di satu titik. Kolaborasi dengan pemerintah daerah, kader, dan mitra pembangunan terus diperkuat agar semakin banyak keluarga yang terjangkau.
Di balik setiap senyum anak yang tumbuh sehat dan setiap orang tua yang kini lebih percaya diri, Program MBG 3B terus bergerak. Perlahan, namun pasti, membangun keluarga yang lebih kuat dan menyalakan harapan bagi generasi masa depan Sumatera Utara.
Bagi Maysarah dan Armansyah, MBG 3B bukan hanya program pemerintah. Ia adalah simbol kepedulian, penguat semangat, dan bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari hal-hal sederhana—selama ada yang mau mendampingi. (don)





