Headline News

Kerusakan Jembatan Penghubung di Besitang Jadi Sorotan Warga

PATIMPUS.COM - Kondisi jembatan penghubung yang berada di perbatasan Kelurahan Bukit Kubu menuju Desa Sunga Merah, Kecamatan Besitang, Kabu...

Kerusakan Jembatan Penghubung di Besitang Jadi Sorotan Warga
| Kamis, Januari 29, 2026

By On Kamis, Januari 29, 2026


PATIMPUS.COM - Kondisi jembatan penghubung yang berada di perbatasan Kelurahan Bukit Kubu menuju Desa Sunga Merah, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, menjadi perhatian warga setempat.


Jembatan tersebut merupakan salah satu akses penting yang digunakan masyarakat dalam menunjang aktivitas sehari-hari.


Berdasarkan pantauan di lapangan pada Kamis (29/01/2026), sekitar pukul 08.00 WIB, terlihat adanya kerusakan pada beberapa bagian struktur jembatan, khususnya pada sisi penyangga. Kondisi tersebut menyebabkan fungsi jembatan tidak lagi optimal dan dinilai memerlukan penanganan lebih lanjut.


Sebagai langkah sementara, diketahui telah dilakukan pemasangan penopang tambahan menggunakan batang kelapa. Penanganan tersebut bersifat sementara dan belum mencakup perbaikan struktur secara menyeluruh.


Jembatan ini digunakan oleh pejalan kaki maupun pengendara roda dua sebagai jalur penghubung antarwilayah. Keberadaan jembatan dalam kondisi aman dan layak dinilai sangat penting untuk mendukung mobilitas masyarakat sekitar.


Warga berharap pihak terkait dapat melakukan pengecekan serta mengambil langkah penanganan yang diperlukan agar jembatan tersebut dapat digunakan dengan aman dan nyaman. Hingga saat ini, masyarakat yang melintas diimbau untuk tetap berhati-hati. (raj)

"Kami Merasa Tidak Sendiri", Suara Hati Penerima Manfaat MBG 3B di Sumatera Utara
| Selasa, Januari 27, 2026

By On Selasa, Januari 27, 2026


PATIMPUS.COM - Bagi sebagian keluarga di Sumatera Utara, hidup sering kali berjalan dengan keterbatasan. Keterbatasan pengetahuan, keterbatasan ekonomi, hingga keterbatasan akses terhadap layanan pendampingan keluarga.


Dalam situasi seperti itu, banyak orang tua hanya bisa bertahan dengan apa yang mereka tahu dan miliki. Namun kehadiran Program MBG 3B membawa harapan baru—harapan bahwa negara benar-benar hadir di tengah keluarga, bukan hanya lewat kebijakan, tetapi lewat sentuhan nyata di lapangan.


Itulah yang dirasakan Maysarah (25), seorang ibu di Kabupaten Serdang Bedagai. Dengan mata berkaca-kaca, ia menceritakan bagaimana pendampingan yang diterimanya perlahan mengubah cara pandangnya dalam merawat anak.

“Dulu saya pikir anak kurus itu biasa, karena kami juga hidup pas-pasan. Yang penting anak tidak sakit parah. Setelah didampingi, saya baru tahu kalau gizi dan pola asuh itu sangat penting. Sekarang saya merasa lebih percaya diri sebagai seorang ibu,” tuturnya lirih.


Bagi Maysarah, Program MBG 3B bukan sekadar sosialisasi atau kunjungan formal. Program ini menjadi ruang aman untuk bertanya, didengar, dan dipahami tanpa rasa dihakimi. Setiap kunjungan pendamping menjadi momen berharga untuk belajar hal-hal sederhana namun berdampak besar—mulai dari pengaturan pola makan anak, kebersihan lingkungan rumah, hingga cara berkomunikasi yang lebih hangat dengan keluarga.

“Saya jadi tahu cara masak makanan yang lebih bergizi dari bahan yang ada di rumah. Pendamping juga tidak pernah marah atau menyalahkan. Mereka ngajari pelan-pelan. Rasanya seperti punya keluarga sendiri yang peduli,” tambahnya.


Hal serupa dirasakan Armansyah (35), kepala keluarga dari Kabupaten Deli Serdang. Ia mengaku sebelumnya jarang terlibat dalam urusan kesehatan dan pengasuhan anak. Dalam pandangannya dulu, urusan anak adalah wilayah ibu, sementara dirinya fokus mencari nafkah.

“Biasanya urusan anak itu ibu-ibu saja. Saya pikir tugas saya cuma kerja. Tapi lewat MBG 3B, saya diajak ikut bertanggung jawab. Saya jadi paham peran saya sebagai ayah. Keluarga kami sekarang lebih kompak,” katanya.


Armansyah juga mengungkapkan bahwa pendampingan yang ia terima membuatnya lebih terbuka terhadap perubahan. Ia mulai ikut memperhatikan tumbuh kembang anak, menemani ke posyandu, dan berdiskusi dengan istrinya tentang perencanaan masa depan keluarga.

“Sekarang saya tahu kenapa 1.000 Hari Pertama Kehidupan itu penting. Dulu saya tidak pernah dengar soal itu. Kalau bukan karena MBG 3B, mungkin saya tetap menganggap semua ini sepele,” ujarnya.


Program MBG 3B hadir dengan pendekatan mendampingi, bukan menghakimi. Melalui dialog yang sederhana dan solusi yang disesuaikan dengan kondisi nyata keluarga, program ini membantu masyarakat memahami pentingnya perencanaan keluarga, pemenuhan gizi, serta penguatan ketahanan keluarga sebagai fondasi masa depan anak.


Para kader dan pendamping keluarga menjadi ujung tombak program ini. Mereka hadir secara rutin ke rumah-rumah warga, membangun kepercayaan, dan memastikan setiap keluarga merasa tidak sendirian dalam menghadapi persoalan hidup.

BKKBN Provinsi Sumatera Utara menegaskan bahwa testimoni para penerima manfaat adalah cermin keberhasilan program. Lebih dari sekadar angka dan laporan, MBG 3B adalah tentang perubahan kecil yang berarti besar bagi kehidupan keluarga.


“Ketika keluarga merasa diperhatikan dan didampingi, di situlah perubahan dimulai. MBG 3B adalah upaya kami memastikan setiap keluarga memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan sejahtera,” ujar Dr. Fatmawati, ST. M.Eng , selaku Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Utara.


Ia menambahkan bahwa keberlanjutan program menjadi kunci agar dampak yang dirasakan masyarakat tidak berhenti di satu titik. Kolaborasi dengan pemerintah daerah, kader, dan mitra pembangunan terus diperkuat agar semakin banyak keluarga yang terjangkau.

Di balik setiap senyum anak yang tumbuh sehat dan setiap orang tua yang kini lebih percaya diri, Program MBG 3B terus bergerak. Perlahan, namun pasti, membangun keluarga yang lebih kuat dan menyalakan harapan bagi generasi masa depan Sumatera Utara.


Bagi Maysarah dan Armansyah, MBG 3B bukan hanya program pemerintah. Ia adalah simbol kepedulian, penguat semangat, dan bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari hal-hal sederhana—selama ada yang mau mendampingi. (don)

Sepanjang 2025, 122 Penyakit Kusta Baru Ditemukan Di Sumut
| Senin, Januari 26, 2026

By On Senin, Januari 26, 2026

foto : istimewa

PATIMPUS.COM - Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara mencatat sebanyak 122 kasus baru kusta dari Januari hingga Desember 2025. 


Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Sumut, Faisal Hasyrimi, kepada awak media, Senin (26/1/2026).


Menurut Faisal, seluruh pasien kusta telah mendapatkan terapi MDT (Multi Drug Therapy) yang tersedia gratis di seluruh puskesmas. Terapi ini diberikan berdasarkan hasil pemeriksaan tipe kusta yang diderita pasien


Faisal menjelaskan, ada beberapa tipe dan masa pengobatan dalam kasus ini. Di mana, Tipe PB (Pausi Basiler) dengan masa pengobatan selama 6–9 bulan, sementara Tipe MB (Multi Basiler) dengan masa pengobatan selama 12–18 bulan.


“Obat tersedia di puskesmas tanpa biaya. Kami pastikan pasien mendapatkan terapi sesuai standar WHO,” ujar Faisal.


Dinas Kesehatan juga melaksanakan berbagai kegiatan pencegahan dan pengendalian, antara lain deteksi dini dan skrining kusta di puskesmas, pemeriksaan kontak penderita di lingkungan sekitar dan pemberian kemoprofilaksis atau obat pencegahan kepada individu yang berisiko.


Faisal menambahkan, tidak ada pasien kusta yang dirawat inap selama periode tersebut. 


Penularan kusta, lanjutnya, umumnya terjadi melalui kontak erat dan berkepanjangan dengan penderita yang belum diobati, terutama melalui droplet saat batuk atau bersin. (don)

Sambut Bulan Ramadan, Warga Bersihkan Masjid Baitul Huda Simpang III Besitang
| Minggu, Januari 25, 2026

By On Minggu, Januari 25, 2026


PATIMPUS.COM – Menyambut datangnya Bulan Suci Ramadan 1447 H, masyarakat bersama pengurus Masjid Baitul Huda Simpang III, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, melaksanakan kegiatan gotongroyong membersihkan lingkungan masjid, Ahad (25/01/2026).


Kegiatan gotongroyong ini diikuti oleh pengurus Badan Kemakmuran Masjid (BKM), tokoh masyarakat, serta warga sekitar.


Sejak pagi hari, para peserta tampak antusias dan kompak melakukan berbagai pekerjaan, mulai dari membersihkan halaman masjid, mencuci karpet, menyemprot lantai, membersihkan selokan, hingga merapikan area depan masjid.


Kegiatan gotongroyong tersebut juga merupakan bentuk kepedulian warga terhadap Masjid Baitul Huda pasca terjadinya banjir bandang, di mana masih terdapat sisa-sisa lumpur dan material banjir yang menempel di sejumlah bagian masjid dan lingkungan sekitarnya. Pembersihan ini dilakukan agar masjid kembali bersih, layak, dan nyaman digunakan oleh jamaah.


Selain bagian dalam masjid, warga juga membersihkan lingkungan sekitar, termasuk area parkir dan akses jalan. Hal ini dilakukan sebagai persiapan menghadapi meningkatnya jumlah jamaah selama bulan Ramadan, baik untuk salat berjamaah, salat tarawih, maupun kegiatan keagamaan lainnya.



Dalam kegiatan tersebut, Sucipto turut memberikan bantuan melalui kawannya dari Tebing Tinggi berupa air mineral, cairan pembersih, serta kain sarung. Bantuan tersebut sangat membantu kelancaran gotongroyong dan menjadi bentuk kepedulian terhadap kebersihan serta kenyamanan rumah ibadah.


Ketua Badan Kemakmuran Masjid Baitul Huda menyampaikan bahwa gotongroyong ini merupakan agenda rutin sekaligus bentuk respon bersama atas kondisi masjid pasca banjir.


“Selain menyambut Ramadan, kegiatan ini kami lakukan untuk membersihkan sisa-sisa lumpur akibat banjir bandang. Kami ingin memastikan masjid benar-benar bersih dan jamaah dapat beribadah dengan nyaman,” ujarnya.


Salah seorang warga yang ikut bergotongroyong juga mengungkapkan bahwa kebersamaan seperti ini menjadi kekuatan utama masyarakat.


“Kami merasa terpanggil untuk bersama-sama membersihkan masjid, apalagi setelah terdampak banjir. Ini bentuk kepedulian dan tanggung jawab kami sebagai warga,” katanya.


Kegiatan gotongroyong diakhiri dengan doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur serta harapan agar Masjid Baitul Huda kembali berfungsi dengan baik dan Bulan Suci Ramadan membawa keberkahan bagi seluruh umat, khususnya masyarakat Simpang III Besitang. (rajali)

Capaian Imunisasi Bayi Turun, Dinkes Medan Minta Orangtua Tak Termakan Isu Hoax
| Rabu, Januari 21, 2026

By On Rabu, Januari 21, 2026


PATIMPUS.COM – Dinas Kesehatan Kota Medan menaruh perhatian serius terhadap menurunnya capaian imunisasi bayi pascapandemi COVID-19.


Padahal, imunisasi menjadi benteng paling awal untuk melindungi anak dari berbagai penyakit menular yang bisa berakibat fatal.


Ketua Tim Kerja Surveilans & Imunisasi Dinkes Medan, Julhilminil Amani Hasibuan, SK, mengungkapkan bahwa hingga kini cakupan imunisasi di Medan belum kembali mencapai target tahunan. Kondisi ini justru terjadi di tengah minimnya ancaman wabah serius di awal tahun.


“Kalau melihat laporan puskesmas, penyakit yang muncul masih tergolong penyakit biasa, seperti flu musiman. Tidak ada lonjakan signifikan. Justru yang menjadi pekerjaan rumah kami adalah imunisasi bayi yang capaiannya menurun,” ujar Julhilminil kepada wartawan, Selasa (20/01/2026).


Ia menyebutkan, sebelum pandemi, capaian imunisasi bayi di Medan relatif stabil. Namun setelah COVID-19, banyak orang tua menjadi ragu membawa anak ke puskesmas. Keraguan itu sebagian besar dipicu oleh informasi yang beredar di media sosial dan grup percakapan, yang kerap tidak memiliki dasar ilmiah.


“Kadang masyarakat lebih cepat percaya informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Padahal imunisasi itu sudah terbukti secara ilmiah sebagai cara paling efektif mencegah anak sakit,” katanya.


Julhilminil menegaskan, kekhawatiran orang tua seharusnya tidak berlebihan, apalagi jika hanya bersumber dari isu atau cerita yang belum jelas kebenarannya.


Menurutnya, imunisasi bayi justru menjadi kunci penting untuk menjaga daya tahan tubuh anak, terutama di masa penyakit musiman seperti flu. Anak yang imunisasinya lengkap akan jauh lebih terlindungi dari komplikasi penyakit.


Untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat, Dinkes Medan telah melakukan berbagai upaya, mulai dari menggandeng Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) hingga turun langsung ke puskesmas dan sekolah-sekolah.


Orang tua dikumpulkan dan diberi penjelasan langsung oleh dokter spesialis anak tentang manfaat dan keamanan imunisasi.


“Kami sudah keliling puskesmas, bertemu orang tua, guru, dan tokoh masyarakat. Tapi harus kami akui, hasilnya belum signifikan. Karena itu kami sangat berharap peran media untuk membantu menyuarakan pentingnya imunisasi bayi,” ujarnya.


Julhilminil juga menekankan bahwa imunisasi berbeda dengan vaksin COVID yang sempat menuai pro dan kontra di masyarakat. Imunisasi bayi telah digunakan puluhan tahun, diteliti secara panjang, dan terbukti menurunkan angka kesakitan serta kematian anak.


“Ini bukan hal baru. Imunisasi sudah lama ada dan manfaatnya nyata. Jadi kami mengajak ibu-ibu di Kota Medan, jangan ragu, bawa anak ke puskesmas, lengkapi imunisasinya,” katanya.


Ia berharap, dengan semakin banyak informasi yang benar dan mudah dipahami, kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi bayi bisa pulih, sehingga generasi Medan tumbuh lebih sehat dan terlindungi sejak dini. (don)

Waspadai Super Flu, RSU Haji Siagakan Tim PIE
| Selasa, Januari 20, 2026

By On Selasa, Januari 20, 2026

foto : istimewa

PATIMPUS.COM - Rumah Sakit Umum (RSU) Haji Medan mengaku tetap siaga dan waspada dalam menghadapi isu super flu yang kini tengah melanda dunia kesehatan di tanah air. 


Untuk itu, Kepala Bidang Pelayanan Medik dan Keperawatan (Kabid Yankep) di RSU Haji Medan, drg Fitrady Ulianda Siregar, M.Kes mengatakan, pihaknya telah menyiagakan Tim Penyakit Infeksi Emerging (PIE) yang sudah dibentuk. 


"Gak ada persiapan khusus. Tapi timnya sudah ada dibentuk," ungkapnya, Selasa (20/1/2026).


Selain itu, jelasnya, tim yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) juga agar tetap siaga dan waspada. 


Terutama, tambahnya, terhadap pasien-pasien yang dicurigai terindikasi  penyakit super flu.


Seperti diketahui, di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) khususnya Kota Medan, sejauh ini belum ditemukan kasus super flu.


Sebelumnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Medan juga menegaskan hingga saat ini belum menerima surat resmi maupun imbauan kewaspadaan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI maupun Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara (Sumut) terkait isu yang berkembang di masyarakat mengenai super flu. 


Plh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Medan, Zulhilminil Amani Hasibuan menjelaskan, secara gejala, flu yang ramai dibicarakan tersebut masih mirip dengan flu biasa. Namun demikian, pihaknya belum memiliki dasar resmi untuk memberikan pernyataan lebih jauh.


“Secara gejala memang seperti flu biasa. Sampai saat ini kami belum menerima surat kewaspadaan dari kementerian maupun dari Dinkes Provinsi Sumut. Biasanya surat itu selalu dikirimkan ke daerah, tapi kali ini belum ada,” ujarnya kepada wartawan baru-baru ini. (don)

Medan

Sumut

Komunitas

Pendidikan

Ekbis